Melihat Gaya Pacaran anak 90-an Lewat Film "Tune in For Love"

Film Tune in For Love tidak hanya bertutur secara naratif tetapi bercerita melalui Visual dan Audio, Diperlihatkan secara jelas dalam film ini bagaimana gaya pacaran anak muda pada era 90an hingga awal 2000-an melalui tokoh Hyun Woo dan Mi Soo. Tidak hanya gaya berpacaran anak muda tetapi penonton dibiarkan bernostalgia dengan teknologi yang pada era itu sedang berkembang.

Film ini disutradarai oleh Jung Ji Woo, untuk kualitas menyutradarai Jung Ji Woo tidak perlu dipertanyakan lagi karena Jung Ji Woo telah menjadi sutradara sejak tahun 1999 dan sekitar 13 feature film telah diarahkannya. Debut feature film Jung Ji Woo yaitu Happy End tahun 1999, dimana dalam debut feature filmnya masuk dalam film Box Office.

sumber : www,tumblr.com

Film Tune In For Love merupakan feature film yang bergenre Drama Romantic, tidak seperti film feature pada umumnya film Tune In Love memiliki durasi yang cukup panjang yaitu hampir lebih 2 jam (122 menit). Dengan durasi yang panjang bukanlah bentuk feature film yang standar, khususnya untuk feature film yang genre Drama Romantic. Walaupun durasi yang panjang, film Tune In For Love tidak membosankan penontonnya, hal ini dikarena pada babak cerita memberikan tujuan yang berbeda dan memberikan berkontribusi terhadap babak yang lain. Selain itu di setiap babak cerita dari film Tune In For Love diperlihatkan kekuatan latar waktu dari era film yang menjadi latar cerita melalui penunjuk waktu yaitu teknologi.

Film ini dibintangi oleh Jung Jae In sebagai Hyun Woo dan Kim Go Eun sebagai Mi Soo, mengisahkan tentang perjalan cinta Hyun Woo dan Mi Soo dari masa ke masa ibarat sebuah pepatah yaitu “Cinta tidak akan lari kemana”. Pertemuan keduanya dimulai ketika Hyun Woo bertemu dengan Mi Soo di toko roti miliknya. Bagian yang menarik dari pertemuan pertama mereka adalah ditandai dengan sebuah program radio yang berjudul “Music Album” dimana Yoo Yeol menjadi penyiar program radio tersebut. Program radio tersebut menjadi penanda awal kisah percintaan mereka, dan juga penanda dari awal cerita film ini. Program radio tersebut menjadi benang merah film dan juga sarana komunikasi Hyun Woo dan Mi Soo yang tidak pernah terputus. Pemilihan program radio “Music Album” tidaklah asal pilih, hal ini dikarenakan program radio “Music Album” menjadi sebuah program radio yang hits di era 90-an khususnya untuk anak muda.

Dalam film ini tidak hanya memperlihatkan kekuatan secara Naratif tetapi juga secara Visual, dimana di dalam film diperlihatkan gaya pacaran anak muda era 90-an yang masih cenderung un-intention tetapi dengan perkembangan teknologi mulai diperlihatkan perubahan gaya diman Hyun Woo mulai berani membentuk hubungan secara intention terhadap Mi Soo. Perubahan alur cerita ditandai dengan munculnya mobile phone dan internet (email). Setelah pertemuan pertama Hyun Woo dan Mi Soo, pada tahun 1995 mereka berdua terpaksa berpisah karena teman sekolah Hyun Woo yang tidak disukai oleh Mi Soo dan Eun Ja (karyawan toko roti Mi Soo).

Pertemuan kedua mereka dimulai ketika Mi Soo lulus kuliah dan mulai bekerja di sebuah surat kabar sementara Hyun Woo harus menjalankan wajib militernya. Pertemuan kedua antara Mi Soo dan Hyun Woo terjadi di depan bekas toko roti Mi Soo yang sudah tidak beroperasi lagi. Ternyata pertemuan kedua ini hanyalah terjadi secara singkat, sementara perpisahan keduanya ditandai dengan Mi Soo membuatkan sebuah email dan memberikan alamat email agar mereka berdua bisa saling berkomunikasi.

Tetapi konflik yang terjadi pada era ini adalah Mi Soo yang lupa memberikan password email kepada Hyun Woo, walaupun begitu Mi Soo tetap mengirimkan email kepada Hyun Woo. Perjuangan Mi Soo tidaklah percuma hingga suatu hari email dari Mi Soo dibalas oleh Hyun Woo, dan terlihat ekspresi Mi Soo yang bahagia, seperti ekspresi anak muda yang sedang jatuh cinta di awal pacaran. Satu konflik saling membangun antara satu babak dengan babak yang lain secara berkesinambungan.

Film ini sangat minim dengan dialog tetapi pengadegan dari tokoh Hyun Woo dan Mi Soo sangatlah menarik sehingga tidak kehilangan esensi romantik dalam film, sehingga terlihat sekali film ini sangat puitis dan menarik secara visual.

Visual Film yaitu look dan mood, dibentuk sedemikian rupa sehingga film ini memberikan karakter yang kuat dan mendukung genre film ini yaitu drama romantik. Look dan mood yang bright dan soft colour membuat film ini tidak kehilangan estetika genre drama romantik-nya. Selain itu properti yang digunakan dalam film ini ikut menunjang tahun dramatik dari film ini yaitu properti-properti yang ada dari era 90-an dan menjelang abad 20-an seperti mobile phone flip, public phone, dan juga bunyi ketika hendak melakukan koneksi internet.

Film Tune in For Love rilis pertama kali pada bulan Agustus 2019 di theatrical komersil di Korea Selatan, dan kemudian dibeli hak siarnya oleh Netflix untuk ditayangkan pada platform Over The Top. Di Korea Selatan sendiri film Tune In For Love masuk dalam film box office dan hampir tayang di 989 layar. Walaupun belum lama turun dari layar bioskop film Tune In For Love sudah mendapatkan beberapa penghargaan festival film baik secara internasional dan nasional seperti : Popularity Awards di London East Asia Film Festival, Winners of the 40th Blue Dragon Film Awards 2019 dan beberapa yang lainnya

Ingin bernostalgia pada era 90-an dan era awal 2000an, film Tune in For Love menjadi salah satu pilihan film yang cocok untuk ditonton! Apalagi saat liburan tahun baru seperti ini, Film Tune In For Lover menjadi cara yang cocok untuk menikmati hari libur anda, selamat menonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s