Ketika kita menonton film atau animasi, sering kali kita fokus pada ceritanya: siapa tokohnya, apa konfliknya, bagaimana akhirnya. Padahal, di balik itu semua, film bekerja seperti sebuah bahasa. Setiap warna, gerakan kamera, ekspresi wajah, bahkan musik latar, sebenarnya adalah “tanda” yang menyampaikan makna. Di sinilah semiotika berperan—membantu kita memahami bahwa gambar bergerak bukan hanya tontonan, tetapi juga sistem yang membentuk cara kita melihat dunia.
Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa setiap tanda terdiri dari dua bagian: bentuk yang terlihat (penanda) dan makna yang kita pahami (petanda). Misalnya, warna hitam dalam sebuah adegan bisa terlihat sederhana, tetapi sering diasosiasikan dengan kesedihan atau misteri. Artinya, makna tidak muncul begitu saja; ia terbentuk dari kesepakatan dan kebiasaan budaya yang kita pelajari sejak lama.
Charles Sanders Peirce menambahkan bahwa makna lahir dari proses interpretasi. Ia membagi tanda menjadi tiga jenis: ikon (karena mirip dengan aslinya), indeks (karena ada hubungan sebab-akibat), dan simbol (karena kesepakatan budaya). Dalam film, gambar asap bisa menjadi indeks adanya api, sementara warna tertentu bisa menjadi simbol emosi tertentu. Penonton tidak hanya melihat, tetapi juga menafsirkan.

Roland Barthes kemudian membawa pembahasan ini lebih jauh. Ia menunjukkan bahwa film tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga nilai-nilai budaya yang sering terasa “alami” dan tidak dipertanyakan. Ia menyebutnya sebagai mitos—cara media menormalisasi ide tertentu, seperti gambaran tentang kepemimpinan, kecantikan, atau kesuksesan. Tanpa kita sadari, film bisa membentuk cara kita berpikir tentang apa yang dianggap wajar dalam masyarakat.

Melalui semiotika, kita belajar bahwa menonton film sebenarnya adalah proses membaca tanda. Kita tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga memahami bagaimana makna dibangun dan bagaimana nilai-nilai tertentu diperkenalkan kepada kita. Dengan sudut pandang ini, pengalaman menonton menjadi lebih kaya—karena kita menyadari bahwa setiap detail visual punya alasan dan pesan di baliknya.

