Konsep film marketing mix yang dikemukakan oleh Finola Kerrigan menekankan bahwa pemasaran film memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan produk lain. Jika dalam konsep marketing mix tradisional dikenal 4P (Product, Price, Place, Promotion), maka pada pemasaran film, elemen utamanya meliputi creative team, aktor, script/genre, klasifikasi usia, dan strategi rilis. Pendekatan ini menekankan bahwa film bukan hanya komoditas, melainkan juga karya budaya yang sarat nilai artistik, sosial, dan ekonomi. Dimana konsep ini memudahkan tim publikasi film untuk mengerti produk (Film) dalam menentukan strategi marketing.
Elemen pertama dalam konsep Film Marketing Mix adalah creative team memiliki peran sentral dalam menentukan citra dan positioning film khususnya dalam industri perfilman Indonesia. Pada film Agak Laen (2024), keterlibatan kelompok komedian Stand Up Indo Medan dan juga sutradara Bene Dion menjadi daya tarik tersendiri tetapi ini didukung oleh sutradara yang memiliki background dalam aspek komedi dan standup yaitu Muhadkly Acho. Faktor pendukung dalam kreatif yaitu adanya nama Ernest Prakasa yang menjadi produser dalam film Agak Laen. Ernest Prakasa sendiri sudah memproduksi beberapa film baik sebagai sutradara dan produser yang dimana karya filmnya sudah Box Office. Kehadiran kreator yang sudah memiliki basis penggemar loyal menambah kredibilitas sekaligus menciptakan koneksi emosional dengan penonton.

sumber: http://www.beautynesia.id
Elemen kedua dalam Film Marketing Mix adalah aktor. Didalam film aktor sebagai bintang menjadi salah satu penentu kesuksesan film. Popularitas para komedian Agak Laen yang sebelumnya sukses dengan pertunjukan panggung yaitu standup komedia dan salah satu film pendahulunya yaitu film Ngeri Ngeri Sedap memberikan efek (E) word of mouth yang kuat. Kehadiran mereka tidak hanya menjual nama, tetapi juga menghadirkan gaya humor khas yang menjadi “brand promise” dari film ini. Apalagi karakter dalam film Agak Laen hampir tidak jauh berbeda dengan kehidupan asli diluar karakter film, sehingga penonton merasakan realitas dalam film Agak Laen.

Elemen ketiga dalam konsep Film Marketing Mix adalaha script dan genre. Script dan genre berperan dalam mengarahkan persepsi audiens. Agak Laen memilih genre horor-komedi yang sedang populer di Indonesia, namun membungkusnya dengan isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kombinasi ini membuat film terasa segar, relevan, dan mampu menjangkau penonton lintas segmen, baik kalangan muda maupun keluarga. Selain itu genre Komedi dan Horor menjadi salah satu genre yang sudah populer khususnya 30 tahun terakhir dalam industri perfilman Indonesia.

Elemen keempat dalam konsep Film Marketing Mix adalah klasifikasi usia. Klasifikasi usia juga menjadi salah satu faktor kunci dan kesuksesan film, dengan klasifikasi umur atau sering dikenal dengan konsep rating akan berhasil menjangkau audiens yang sesuai dengan target audiens yang telah ditentukan. Elemen terakhir dalam konsep Film Marketing Mix adalah rilis strategi. Tidak jauh berbeda dengan rating, rilis strategi menjadi kunci kesuksesan film khususnya dalam menghasilkan profit dalam film. Dengan penerapan rilis strategi film akan berhasil menjangkau audiens yang luas baik secara Theatrical dan Non-Theatrical. Dalam film Agak Laen, setelah sukses di layar lebar (Theatrical Commercial), film Agak Laen melanjutkan distribusi melalui platform OTT yaitu Netflix (Non-Theatrical) sehingga memperpanjang lifecycle film dan memperluas jangkauan ke pasar internasional, khususnya diaspora Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan konsep Film Marketing Mix oleh Kerrigan dapat memperkuat daya saing film Indonesia baik di pasar lokal maupun global.
Penerapan konsep Film Marketing Mix menurut Finola Kerrigan membawa dampak signifikan terhadap efektivitas strategi pemasaran film. Dengan melihat film sebagai kombinasi dari creative team, aktor, script/genre, klasifikasi usia, dan strategi rilis, pemasar dapat menyusun pendekatan yang lebih komprehensif dan sesuai dengan karakteristik unik dari film (produk) dan juga pendekatan dalam industri film. Setiap elemen yang ada di dalam film — mulai dari reputasi sutradara, daya tarik bintang, hingga pemilihan genre—berfungsi sebagai value proposition yang ditawarkan kepada penonton. Lebih jauh lagi, penggunaan pendekatan ini tidak hanya mendukung keberhasilan komersial, tetapi juga memastikan film tetap berakar pada identitas budaya serta memenuhi regulasi seperti klasifikasi usia. Dengan demikian, strategi pemasaran film berbasis Film Marketing Mix mampu menjaga keseimbangan antara tujuan industri dan nilai-nilai sosial budaya, sehingga relevan untuk diterapkan dalam pengembangan industri film Indonesia yang semakin kompetitif, baik di ranah domestik maupun internasional.