Marketing pada dasarnya adalah serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memahami kebutuhan konsumen (penonton), menciptakan produk atau layanan yang sesuai, serta mengkomunikasikan dan mendistribusikannya secara efektif (Kotler). Lebih dari sekadar menjual, marketing mencakup bagaimana sebuah produk diposisikan, bagaimana produk dalam bentuk film menawarkan nilai, dan bagaimana produk (film) membangun hubungan jangka panjang dengan audiens. Konsep ini berkembang dari pendekatan tradisional seperti Marketing Mix – 4P (Product, Price, Place, Promotion) hingga pendekatan yang lebih berorientasi pada konsumen seperti 4C atau SIVA.

Sumber: http://www.pinterest.com. ,2025
Dalam konteks industri film khususnya dalam industri perfilman Indonesia, marketing memiliki peranan penting yang tidak bisa dipisahkan dari proses produksi film baik dari tahapan produksi (development – paska produksi) dan tahapan bisnis film (distribusi dan eksebisi). Film bukan hanya karya seni, tetapi juga sebuah produk budaya yang perlu dipromosikan agar sampai ke penontonnya. Film diproduksi untuk menyampaikan pesan dari filmmaker kepada penonton. Melalui strategi marketing, sebuah film dapat dikenalkan kepada penonton yang tepat, dibangun daya tarik emosionalnya, hingga diciptakan percakapan publik yang mendorong minat menonton. Tanpa strategi pemasaran yang baik, sebuah film—meskipun berkualitas tinggi—dapat dengan mudah tenggelam di tengah persaingan pasar.
Film marketing mencakup berbagai aspek mulai dari penyusunan identitas visual (poster, trailer, teaser), manajemen distribusi (bioskop, OTT, festival), hingga pengelolaan komunikasi dengan penonton melalui platform promosi dalam media massa. Di era digital, promosi film juga semakin bergeser ke arah interaktif, di mana penonton bukan sekadar penerima pesan, melainkan ikut serta dalam membentuk persepsi dan popularitas film melalui engagement online (Usher Generated Content). Hal ini menjadikan film marketing sebagai strategi yang dinamis, memadukan seni bercerita dengan taktik komunikasi dan distribusi yang efektif.

Sumber: http://www.imdb.com, 2024
Korelasi antara marketing dan perfilman pada akhirnya terletak pada bagaimana sebuah karya film diposisikan sebagai pengalaman yang relevan bagi penontonnya. Marketing membantu menjembatani pesan kreatif dari filmmaker dengan kebutuhan emosional, intelektual, atau hiburan dari audiens. Dengan strategi pemasaran yang tepat, film dapat melampaui batas sekadar tontonan dan menjadi fenomena budaya, baik di tingkat lokal maupun global. Oleh karena itu, memahami marketing dalam dunia film bukan hanya soal teknik promosi, melainkan juga bagaimana membangun hubungan yang berkelanjutan antara karya sinema dan masyarakat.

sumber: http://www.imdb.com, 2024
Salah satu contoh nyata dapat dilihat pada film Agak Laen (2024) yang menjadi fenomena box office dengan lebih dari 9 juta penonton. Keberhasilan ini didorong oleh strategi marketing yang memanfaatkan kekuatan (E) Word of Mouth, di mana publicist dalam film Agak Laen menyusun potongan adegan lucu cepat menyebar melalui platform media sosial seperti TikTok dan Instagram sehingga menciptakan efek FOMO di kalangan penonton. Promosi yang interaktif lewat meme, engagement digital, serta dukungan basis penggemar yang sudah terbangun dari dunia stand-up comedy turut memperkuat daya tarik film ini. Ditambah dengan distribusi yang luas di jaringan bioskop nasional seperti Cinema XXI (Cineplex 21) dan beberapa Theatrical Commercial International seperti Malaysia, Brunai dan Singapura. Film Agak Laen berhasil menghadirkan kombinasi antara kedekatan emosional, viralitas, dan aksesibilitas yang menjadikannya sukses besar di pasaran
